Utama Riwayat Galeri Foto Berita Karya & Sastra Kajian Artikel Wisata

 

 



Runtuhan bunga - bunga

Adakalanya runtuhan bunga-bunga itu sempat menyiram kenangan. Bau wangi semerbak menerawang di halaman. Maka sering kalimatku terpenggal di situ. Kawanku ada di Negara sana. Kelak dia datang dengan rambutnya yang masih panjang. Bunga-bunga di halaman rumahku masih setia melungsurkan ketenteraman di hati. Sementara itu kedua anakku sudah tidur pulas. Aku sempat membaca kedua matanya yang terlelap itu. Mungkin sebentar lagi kawanku datang, dengan ransel besar. Seharian tadi mereka bermain, dan aku mengawasinya di beranda sambil membaca novel.  

Alangkah panjangnya hari-hari yang masih berjalan ini. Ada orang yang tengah menyiapkan makanan di dapur. Ya, perutku jadi lapar sekali. Padahal aku belum membuat laporan atas telah berlangsungnya seminar budaya kemarin. Ada sedikit pengantar dan tetek bengek yang lain, selain berkas-berkas makalah yang harus juga disertakan dalam laporan itu. Mestinya ini saat yang baik untuk bekerja, kembali menghadapi mesin ketik kuno warisan dari ayahku.  

Tapi bertubi-tubi engkau terus bertanya apa maknanya deretan teks yang aku rangkai sebagai pengrajin kata. Maka inilah jawabanku sebagai saksi mata terhadap segala hal yang menyangkut kehidupan. Kawanku di sana mungkin bisa memahami betapa teks selalu menyimpan keperihan waktu. Suara mesin ketik kuno itu adalah irama purba yang dirindukan setiap saat. Mungkin ini hanya sebagian kecil yang aku kerjakan, dari sederetan aktifitas hidup yang tampak mengeras ini. Ada kerinduan demi kerinduan yang diusung waktu. Sebagai penyair, tentu saja kelak aku akan menyerah.  

Ya, siapa pun akan menyerah. Tak hanya aku dan kamu, tapi mereka juga. Semua makhluk yang melata di bumi ini. Semua makhluk yang ada di langit dan di bumi. Subhanallah. Dan para penyair masih berlomba-lomba menciptakan puisi? Ada sebagian pihak yang masih mengagungkan konsistensi. Adakalanya kita memang merasa terpuruk, dan rasanya tak mungkin bisa bangkit lagi. Kita merasa habis sampai di sini. Seperti maut yang tiba tepat pada saatnya.  

Apa artinya dari semua ini? Akhirnya, tak banyak nama kawan-kawanku yang bisa kuingat. Hanya beberapa yang sering datang ke rumah. Tentu saja ada kepentingan-kepentingan yang kadang sangat personal, atau tak jarang ada kepentingan politik praktis. Tapi, bagaimana menjelaskan kehidupan yang paling gamblang? Kadang tak cukup dengan kata-kata, tak seperti laporan yang hanya cukup dengan sejumlah kecil data dan bunga manis kata-kata. Ada sebentuk tipu muslihat di situ, untuk mengusung seni grafis dan desain yang menawan, maka cukuplah.  

Maka kita akan pergi ke pantai, kembali melihat ombak yang seperti lomba lari menuju kearah kita. Entah kenapa kita merasa jadi menciut, mengakui kedahsyatan alam. Dan kita sanggup merusaknya selain memanfaatkannya. Napsu meraup kekayaan alam sampai ke akar-akarnya, sampai habis. Mereka yang kaya, entah kenapa, selalu dekat dengan keserakahan. Mereka merasa kurang cukup, dan waktu adalah kesempatan untuk menimbun harta. Mereka tak punya kesempatan untuk memperhatikan yang lain, yang sebetulnya, juga indah. Banyak yang disibukkan mencari pekerjaan, atau menekuni pekerjaan demi sesuap nasi. Celakanya tak banyak orang yang berani jadi penulis dan hidup layak dari menulis. Ini, kayaknya, bukan pekerjaan gampang, apalagi yang teguh hanya dengan meneliti puisi, membaca sejumlah karya sastra.  

Adalah niscaya bahwa penulis sanggup mendisiplinkan dirinya untuk senantiasa produktif dalam menghasilkan sejumlah karya. Artinya, semangat yang bagaimana saat seseorang harus selalu dituntut untuk maju dan pantang menyerah oleh keadaan. Celakanya kita adalah gerombolan manusia kere yang pantas dihina oleh sesama, begitulah seniman. Boleh jadi, oleh sebab itu, kita selalu berkecil hati saat tahu tak ada gagasan apapun yang rasanya layak diperbincangkan. Kita hanya bisa terus-menerus menarik napas panjang, seperti menyesali diri tak bisa berbuat lebih banyak lagi untuk mengangkat harga diri yang terlanjur terpuruk. Ada apa sebenarnya dengan dunia teks dalam bahasa Indonesia sekarang ini?

   


 




 


harypr.com - 2008