|
|
||||||||||||
| ||||||||||||
|
|
Mengenal Suku Using di Kabupaten Banyuwangi Suku Using yang tinggal di wilayah Kabupaten Banyuwangi merupakan sisa-sisa dari masyarakat kerajaan Blambangan. Kerajaan Blambangan merupakan kerajaan yang berada di ujung Timur Pulau Jawa. Kerajaan Blambangan pada kurun waktu 1297-1527 merupakan daerah yang dikuasai oleh Majapahit. Setelah Majapahit runtuh sampai akhir abad ke-18, Blambangan merupakan kerajaan yang berdiri sendiri, namun kerap menjadi rebutan dari kerajaan-kerajaan lainnya, bahkan hingga berkali-kali dikuasi oleh kerajaan lainnya seperti Kerajaan Gel-Gel, Kerajaan Buleleng dan Kerajaan Mengwi di Bali.Keadaan alam yang demikian sulit menjadikan Blambangan sebagai daerah yang terisolasi dari perkembangan daerah-daerah lain seperti yang ada di Pulau Jawa. Karenanya meskipun daerah-daerah lain telah dikuasai oleh Verenigde Oostindische Compagnie (VOC), Blambangan baru dikuasai oleh Belanda tahun 1774, itupun terjadi setelah peperangan berkepanjangan antara putra-putra Blambangan. Kemudian demi kepentingan Belanda dalam mengeksploitasi tanah jajahan, Belanda membangun semua fasilitas yang bisa digunakan untuk menunjang perekonomian di bumi Blambangan.Dalam rangka pembangunan kepentingannya itu, kemudian Belanda mendatangkan penduduk secara besar-besaran dari luar Blambangan. Program ini cukup berhasil menambah jumlah penduduk Blambangan, hingga diuraikan bahwa penduduk Blambangan tahun 1750 hanya berjumlah 8.000 jiwa. dan pada awab abad 19 penduduk nagari Banyuwangi mencapai populasi sebesar 20.000 jiwa.Pada bagian lain dijelaskan bahwa dalam rangka membangun ibu kota Banyuwangi pada pantai Timur, maka VOC mendatangkan orang yang berasal dari luar Blambangan hingga tahun 1774 jumlah penduduk dari luar Blambangan yang didatangkan untuk membangun ibu kota Banyuwangi sekitar 1100 jiwa atau 50 % dari 2500 jiwa total penduduk ibu kota Banyuwangi waktu itu.Pendapat Sudjana tentang penduduk yang didatangkan dari luar Blambangan yang kemudian menetap di Banyuwangi pada waktu itu mengembangkan bahasa Jawa sebagai salah satu media komunikasi yang ada sekarang ini di Banyuwangi, sedangkan masyarakat Blambangan tetap menggunakan bahasa setempat yang kemudian dikenal sebagai bahasa Using.Salah ciri yang dominan sebagai pembeda etnik Using dengan etnik non Using di daerah Jawa Timur adalah bahasa etnik Using adalah bahasa Using. Yakni suatu bahasa daerah yang dipakai oleh masyarakat di kabupaten Banyuwangi. Pemakaiannya terbatas pada bahasa lisan. Dan wilayah pemakaiannya meliputi wilayah yang dibatasi sebelah Utara dan Barat oleh Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Jember. Sedangkan sebelah Selatan dibatasi oleh Samudra Hindia, dan Sebelah Timur dibatasi oleh Selat Bali. Di samping penggunaan bahasa Using, masyarakat Using juga mengembangkan potensi kesenian dan kebudayaan termasuk adat istiadat yang mampu ditelusuri sebagai hasil pewarisan dari leluhur masyarakat Using yaitu masyarakat kerajaan Blambangan. Sebagaimana diketahui bahwa sejak abad ke 12 wilayah tersebut dikuasai oleh kerajaan Blambangan. Namun pemerintahan kerajaan Blambangan yang sebenarnya merupakan bagian dari kerajaan Majapahit itu, sejak pemerintahan Aria Nambi sampai pemerintahan Bhre Wirabhumi, Blambangan selalu terlibat permusuhan dengan kerajaan Majapahit. Peperangan-peperangan antara Blambangan dan Majapahit serta berbagai kondisi mengarahkan pengembangan peradaban Budaya Jawa -- termasuk Bahasa Jawa -- tidak berkembang sebagaimana kebudayaan Jawa di Jawa. Umumnya, pengembangan bahasa Kawi di Jawa berkembang, misalnya berkembang menjadi bahasa Jawa Tengahan, dan di Bali menjadi bahasa Bali. Namun di Blambangan perkembangan bahasa Kawi menjadi bahasa Using. Latar belakang Penggunaan bahasa Using di Blambangan (dan sekarang di Banyuwangi), antara lain karena faktor sejarah perkembangan kekuasaan Majapahit yang menguasai Blambangan sejak tahun 1295-1527. Setelah Majapahit runtuh, Blambangan bahkan menjadi perebutan kekuasaan kerajaan-kerajaan lain seperti kerajaan Demak dan kerajaan-kerajaan di Bali (Kerajaan Gel-gel, Kerajaan Buleleng, dan Kerajaan Mengwi), sebelum akhirnya dikuasai oleh VOC pada tahun 1774. Latar belakang sejarah Blambangan ini menguatkan anggapan bahwa penggunaan bahasa Kawi yang digunakan dalam komunikasi waktu itu di Nusantara juga digunakan oleh masyarakat Blambangan, selain bahasa Using sebagai bahasa yang memiliki struktur yang berbeda dengan bahasa Jawa dan bahasa-bahasa lain di sekitarnya. Struktur dan pola kesenian Using berkembang dengan ciri-ciri yang berbeda dengan kebudayaan etnik non Using lainnya. Perkembangan kebudayaan Using itu antara lain dihasilkan dari pola pewarisan kebudayaan Blambangan, juga karena faktor akulturasi budaya dengan kebudayaan non Using lainnya. Hal tersebut dimungkinkan terjadi mengingat sejarah perkembangan peradaban Using yang terbentuk oleh faktor sosio-kultural yang ada di Banyuwangi. Interaksi budaya antara sisa-sisa penduduk Blambangan dengan para imigran dari Jawa dan Madura membentuk struktur dan pola kesenian tradisional Using di Kabupaten Banyuwangi, yang antara lain meliputi : a. Seni Pertunjukkan Tradisonal Using yang berhubungan dengan religi (Animisme-Dinamisme) antara lain : Seblang ; Singo Barong ; Gandrung. b. Seni Pertunjukkan Tradisonal Using yang berhubungan dengan religi (Hindu-Bali) antara lain : Bali-balian ; Jinggoan ; c. Seni Pertunjukkan Tradisonal Using yang berhubungan dengan religi (Islam) antara lain : Kuntulan ; Macaan Lontar ; Macaan Campursari ; Rengganis / Praburara ; Patrol Using. d. Seni Pertunjukkan Tradisonal Using yang berhubungan dengan Kesenian Jawa, antara lain : Kendang Kempul ; Campursari ; Ketoprak ; Wayang Kulit. e. Seni Pertunjukkan Tradisional Using Profan, antara lain : Angklung Paglak (Musik) ; Tari Tradisional Using Modifikasi (Ciptaan Pengembangan Modern) ; Kendang Kempul Blambangan (Musik). Penelitian terhadap masyarakat Using antara lain dilakukan oleh Soedjito (1979) ; Soetoko (1981) ; Suparman Heru Santoso (1989). Penelitian Soedjito dilakukan pada tahun 1979 bertujuan untuk mengetahui seluk-beluk dialek Banyuwangi, terutama dalam hal fonologi, morfologi dan sintaksis dialek Banyuwangi, dengan dideskripsikan bahwa : Dialek Banyuwangi merupakan dialek Bahasa Jawa yang digunakan oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Dialek Banyuwangi memiliki variasi dalam sistem bunyi, tatabahasa, kosakata, yang mampu dibedakan dengan bahasa Jawa. (Soedjito, 1979 : 25) Soedjito menyebutkan bahwa bentuk tuturan yang digunakan oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Banyuwangi sebagai varian bahasa Jawa yang disebut sebagai dialek Banyuwangi. Dalam hal ini Soedjito mengartikan bahwa dialek Banyuwangi memiliki kekhususan dalam hal sistem bunyi, tatabahasa dan sistem kosakata yang berbeda dengan bahasa Jawa. Penelitian tentang bahasa Using selanjutnya dilakukan oleh Soetoko, dkk. yang dilaksanakan pada tahun 1981. Seperti halnya Soedjito, Soetoko berkesimpulan bahwa dialek Banyuwangi merupakan varian dari bahasa Jawa. Selanjutnya Soetoko mengungkapkan bahwa : Dialek Banyuwangi (DB) adalah bahasa daerah yang dipakai oleh masyarakat di daerah Tingkat II kabupaten Banyuwangi. Pemakaiannya terbatas pada bahasa lisan saja. Dan wilayah pemakaiannya meliputi wilayah yang dibatasi oleh sebelah Barat Utara dan Barat dibatasi oleh Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Jember. Sedangkan sebelah Selatan dibatasi oleh Samudra Hindia, dan Sebelah Timur dibatasi oleh Selat Bali. (Soetoko. 1981) Uraian Soetoko di atas memberi penjelasan bahwa Dialek Banyuwangi (DB) adalah bahasa daerah yang dipakai oleh masyarakat di kabupaten Banyuwangi. Pemakaiannya terbatas pada bahasa lisan saja, karena wilayah pemakaiannya hanya meliputi wilayah yang dibatasi oleh sebelah Barat Utara dan Barat dibatasi oleh Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Jember. Sedangkan sebelah Selatan dibatasi oleh Samudra Hindia, dan Sebelah Timur dibatasi oleh Selat Bali. Lebih lanjut Soetoko mengungkapkan bahwa beberapa daerah di wilayah Kabupaten Banyuwangi disebut sebagai pusat penyebaran dialek Banyuwangi, sebagaian daerah disebut sebagai daerah peralihan dan beberapa daerah disebut sebagai daerah kunaan. Daerah pusat penyebaran dialek Banyuwangi terletak di beberapa tempat, yaitu kecamatan Singojuruh, Kecamatan Songgon, dan Kecamatan Banyuwangi. Di daerah tersebut dialek Banyuwangi memiliki sedikit pengaruh bahasa Jawa. Sedangkan wilayah di Kecamatan Genteng, Kecamatan Gambiran, Kecamatan Benculuk, Kecamatan Muncar, merupakan daerah yang mendapatkan cukup banyak pengaruh bahasa Jawa, dan disebut daerah peralihan. Daerah kunaan yaitu daerah yang sangat sedikit mendapat pengaruh bahasa Jawa, yaitu wilayah kecamatan Kabat, kecamatan Giri, kecamatan Glagah, kecamatan Rogojampi, kecamatan Srono. (Soetoko, 1981 : 39). Penjelasan Soetoko di atas menyimpulkan bahwa wilayah pemakaian dialek Banyuwangi dibagi dibagi menjadi beberapa daerah, yaitu : wilayah daerah pusat penyebaran, wilayah daerah peralihan dan daerah kunaan. Daerah pusat penyebaran merupakan daerah yang mendapat sedikit pengaruh bahasa Jawa, daerah peralihan adalah suatu daerah yang cukup banyak mendapat pengaruh bahasa Jawa sedangkan daerah kunaan merupakan daerah yang mendapat sedikit pengaruh bahasa Jawa.
Pendapat Soedjito dan Soetoko yang menyebutkan bahwa tuturan yang
digunakan oleh masyarakat di wilayah Kabupaten Banyuwangi merupakan
dialek bahasa Jawa, juga diikuti oleh Hadiri (1995) dalam makalahnya
yang disampaikan dalam ‘Seminar Bahasa Using’ tahun 1995 menyebutkan
bahwa : Dialek Jawa Osing merupakan suatu bentuk bahasa daerah
yang digunakan oleh masyarakat Jawa etnik Osing, yang telah
dikembangkan secara turun-temurun di wilayah Kabupaten Banyuwangi.
Namun pada perkembangannya kemudian bahasa daerah Jawa dialek Jawa
Using tersebut menunjukkan gejala kemunduran. Hal ini disebabkan
oleh pemakai bahasa Jawa dialek Jawa Osing merasa rendah diri, malu,
dan kurang percaya diri ( Hadiri. 1995.: 4). |
|
||||||||||
|
|
||||||||||||